Sejarah BLK
BLK lahir pertama kali di Solo, Jawa
Tengah pada tahun1947. Pada mulanya BLK-BLK didirikan hanya di pulau
Jawa.Pendirian BLK di luar pulau Jawa dimulai baru pada tahun1957 dengan
dibangunnya BLK di Padang, Sumatera Barat.Seiring dengan perkembangan jaman dan
kebutuhanmasyarakat atas peningkatan kualitas sumber daya manusiamelalui
pelatihan kerja, jumlah BLK meningkat secara pesat dan kini telah berjumlah 182
BLK yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.Menurut sejarahnya,
perkembangan BLK di Indonesia dibagi menjadi 7 periode yaitu:
Periode 1960an: Ekspansi BLK ke Luar Jawa.
Perkembangan BLK selama periode tahun
1960-an ditandai dengan meningkatnya jumlah BLK yang dibangun di luar pulau Jawa.
Pada periode ini mulai dikembangkan “Unit - Unit Pelatihan Keliling ( Mobile Training Unit /MTU) untuk mencapai kelompok sasaran yang
berada di daerah pedesaan.
Periode 1970an: Awal Pertumbuhan BLK
Pada periode ini dibangun 21 BLK di
seluruh wilayah Indonesia.
Periode 1980an: Puncak pertumbuhan BLK
Pada periode ini perkembangan BLK memasuki
tahap perkembangan puncak dengan dibangunnya 16 BLK tipe B dan 104 BLK tipe C
(BLK Kecil), sehingga pada akhir Repelita IV di tahun 1988 secara keseluruhan
terdapat 157 buah BLK. Program pelatihan di BLK dalam periode ini dititik
be-ratkan pada pelatihan untuk para penganggur dan dilaksanakan berdasarkan
prinsip Trilogi Pelatihan yaitu: a. Pelatihan harus berdasarkan permintaan ; b.
Pelatihan harus sesuai dengan perkembangan teknologi;c. Pelatihan harus disatupadukan dalam proses
yang saling bersangkut paut (hubungan pelatihan, pendidikan dan pengembangan) dan
pelaksanaan proses (koordinasi antar instansi yang berpartisipasi).
Periode 1990-1997: BLK menuju kemandirian
Pada periode ini diadakan reformasi
pengelolaan BLK yang diarahkan untuk menata ulang seluruh sistem pengelolaan
BLK agar bisa mandiri baik di segi manajemen maupun finasial. Program
pelatihan disusun sebagai kegiatan usaha yang beriorientasi pada permintaan.
Periode 1998-2006: Sewindu BLK dalam Transisi
Dengan diterapkannya otonomi daerah di
tahun 2001
sebagai implikasinya diterapkan pula
desentralisasi manajemen BLK. Hal ini mengakibatkan sebagian besar BLK
diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Pada periode ini sebanyak 154 BLK diserahkan
kepada Pemda dan hanya 11 BLK yang masih dikelola langsung oleh pemerintah
pusat.
Periode 2007-2011: Revitalisasi BLK dan Program ‘3in 1’
Pada periode ini dicanangkan kebijakan
revitalisasi BLK dan Program ‘3 in 1’ yang mengintegrasikan pelatihan,
sertifikasi dan penempatan.Revitalisasi BLK dilaksanakan dalam rangka
mengembalikan fungsi BLK menjadi lembaga pelatihan yangmenghasilkan lulusan
yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Revitalisasi tersebut
menyangkut aspek manaje men, sarana dan prasarana, sumber daya manusia/instruktur
dan program pelatihan yang diakhiri dengan sertifikasi dalam rangka meningkatkan
daya sainglulusan BLK
UPTD BLK Sekayu
UPTD BLK Sekayu Berdiri Pada tahun 1984 dengan nama Bina Guna dan pada awal tahun 1990-an berubah nama menjadi KLK (Kursus Latihan Kerja) kemudian berganti nama lagi menjadi LLK UKM hingga akhir 1999 dan pada tahun 2000 sampai sekarang dengan nama Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Latihan Kerja (BLK) Sekayu dibawah naungan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Musi Banyuasin.
UPTD BLK Sekayu
UPTD BLK Sekayu Berdiri Pada tahun 1984 dengan nama Bina Guna dan pada awal tahun 1990-an berubah nama menjadi KLK (Kursus Latihan Kerja) kemudian berganti nama lagi menjadi LLK UKM hingga akhir 1999 dan pada tahun 2000 sampai sekarang dengan nama Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Latihan Kerja (BLK) Sekayu dibawah naungan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Musi Banyuasin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar