Rabu, 20 Juni 2012


Sejarah BLK
BLK lahir pertama kali di Solo, Jawa Tengah pada tahun1947. Pada mulanya BLK-BLK didirikan hanya di pulau Jawa.Pendirian BLK di luar pulau Jawa dimulai baru pada tahun1957 dengan dibangunnya BLK di Padang, Sumatera Barat.Seiring dengan perkembangan jaman dan kebutuhanmasyarakat atas peningkatan kualitas sumber daya manusiamelalui pelatihan kerja, jumlah BLK meningkat secara pesat dan kini telah berjumlah 182 BLK yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.Menurut sejarahnya, perkembangan BLK di Indonesia dibagi menjadi 7 periode yaitu:

Periode 1960an: Ekspansi BLK ke Luar Jawa.
Perkembangan BLK selama periode tahun 1960-an ditandai dengan meningkatnya jumlah BLK yang dibangun di luar pulau Jawa. Pada periode ini mulai dikembangkan “Unit - Unit Pelatihan Keliling ( Mobile Training Unit /MTU) untuk mencapai kelompok sasaran yang berada di daerah pedesaan.

Periode 1970an: Awal Pertumbuhan BLK
Pada periode ini dibangun 21 BLK di seluruh wilayah Indonesia.

Periode 1980an: Puncak pertumbuhan BLK
Pada periode ini perkembangan BLK memasuki tahap perkembangan puncak dengan dibangunnya 16 BLK tipe B dan 104 BLK tipe C (BLK Kecil), sehingga pada akhir Repelita IV di tahun 1988 secara keseluruhan terdapat 157 buah BLK. Program pelatihan di BLK dalam periode ini dititik be-ratkan pada pelatihan untuk para penganggur dan dilaksanakan berdasarkan prinsip Trilogi Pelatihan yaitu: a. Pelatihan harus berdasarkan permintaan ; b. Pelatihan harus sesuai dengan perkembangan teknologi;c. Pelatihan harus disatupadukan dalam proses yang saling bersangkut paut (hubungan pelatihan, pendidikan dan pengembangan) dan pelaksanaan proses (koordinasi antar instansi yang berpartisipasi).

Periode 1990-1997: BLK menuju kemandirian
Pada periode ini diadakan reformasi pengelolaan BLK yang diarahkan untuk menata ulang seluruh sistem pengelolaan BLK agar bisa mandiri baik di segi manajemen maupun finasial. Program pelatihan disusun sebagai kegiatan usaha yang beriorientasi pada permintaan.

Periode 1998-2006: Sewindu BLK dalam Transisi
Dengan diterapkannya otonomi daerah di tahun 2001
sebagai implikasinya diterapkan pula desentralisasi manajemen BLK. Hal ini mengakibatkan sebagian besar BLK diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Pada periode ini sebanyak 154 BLK diserahkan kepada Pemda dan hanya 11 BLK yang masih dikelola langsung oleh pemerintah pusat.

Periode 2007-2011: Revitalisasi BLK dan Program ‘3in 1’
Pada periode ini dicanangkan kebijakan revitalisasi BLK dan Program ‘3 in 1’ yang mengintegrasikan pelatihan, sertifikasi dan penempatan.Revitalisasi BLK dilaksanakan dalam rangka mengembalikan fungsi BLK menjadi lembaga pelatihan yangmenghasilkan lulusan yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Revitalisasi tersebut  menyangkut aspek manaje men, sarana dan prasarana, sumber daya manusia/instruktur dan program pelatihan yang diakhiri dengan sertifikasi dalam rangka meningkatkan daya sainglulusan BLK

UPTD BLK Sekayu

UPTD BLK Sekayu Berdiri Pada tahun 1984 dengan nama Bina Guna dan pada awal tahun 1990-an berubah nama menjadi KLK (Kursus Latihan Kerja) kemudian berganti nama lagi menjadi LLK UKM hingga akhir 1999 dan pada tahun 2000 sampai sekarang dengan nama Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Latihan Kerja (BLK) Sekayu dibawah naungan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Musi Banyuasin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar